Author : Shin Hyun Rin
Genre : Romantic
Cast :
Lee Hongki
Park Seorin
Fanfic ini terinspirasi dari MV-nya FT Island. Bukan terinspirasi lagi, tapi memang sengaja diceritakan kembali dalam bentuk fanfic. Keep reading ^^
>>> Shin Hyun Rin <<<
--------------------------------------------------------------------------------------------
Gereja, adalah tempat favoritku belakangan ini. Bukan karena apa-apa, tapi aku merasa banyak sekali kenangan yang aku rasakan disini.
Seorin, foto gadis itu yang selalu memaksaku mengunjungi gereja ini. Aku sudah berulang kali menatapmu dengan tatapan kosong, berharap kau akan berbucara padaku betapa menyesalnya kau. Tapi kenapa kau hanya balas menatapku dengan senyuman dibalik bingkai kaca ini? Apa salahku sehingga aku begitu cepat kehilanganmu?
Aku mengamati potongan koran yang memisahkan kita itu. Penari terbaik di seantero Seoul, Park Seo Rin tewas dalam kecelakaan, pertunjukannya dibatalkan. Kau tidak tahu bagaimana hancur hatiku saat aku membaca kata demi kata di koran ini. Itu sungguh-sungguh merobek batinku! Kau harus tahu itu!
Bruuk!
Maaf, aku tidak sengaja…
Hah, apa itu kau? Astaga Seorin, syukurlah itu tadi hanya mimpi burukku. Ingin rasanya aku kembali memelukmu, aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu lagi, kumohon jangan lepaskan lagi. Aku hanya mencoba melindungimu sebisaku.
Tapi apa yang kau lakukan padaku? Aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu! Kenapa kau melepaskan pelukanku? Apa kau marah padaku? Apa kau marah karena aku tidak bisa menjamin keselamatanmu? Kalau itu yang kau inginkan, aku mau mengulang itu semua kembali. Untukmu…
Kalender. Itulah yang aku butuhkan sekarang. Tinggal satu minggu lagi sebelum hari perpisahan kita.
***
Aku menandai tanggal 18. Sudah berlalu satu hari tapi aku tetap belum juga merasakan sesuatu.
“Hati-hati noonna!” aku memeluk seorang yeoja yang hampir saja tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang. Kalau saja aku tidak terlambat menyelamatkannya, mungkin ia sudah tergeletak di jalan dengan tubuh penuh darah.
“Gamsahamnida oppa,” jawabnya dengan suara yang merdu.
“Cheonmaneyo noonna,” jawabku sekedarnya. Ah, yeoja ini sangat manis.
Aku diajak bertamu ke rumahnya. Rumahnya luar biasa besar, tapi yang ku lihat itu rumah itu tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan yeoja itu, Seorin.
“Ayo oppa, diminum dulu teh nya,” katanya padaku, ia menuangkan teh panas ke dalam cangkir dan memberikannya untukku.
Dengan inisiatifku sendiri, aku memasukkan sebuah gula blok ke cangkir teh nya. Sorot matanya terlihat tidak senang. Ah, aku jadi salah tingkah. Ia mungkin tidak suka teh dengan gula blok.
Matanya yang indah itu terus menatapku dengan tatapan nanar. Uh, disaat seperti ini aku malah berbuat kebodohan. Pabo namja!
Aku berusaha mencairkan suasana. Teh yang masih panas itu kuseruput cepat-cepat. Pandangan yeoja itu mulai berseri. Ah, panas! Yeoja itu tertawa melihatku kesakitan. Satu kebodohan lagi yang ku perbuat.
Aku mengamati sebuah banner yang terpampang di dinding ruang tamunya. 1.24.12. Kaulah yang membuat semuanya berantakan. Kau yang membuat aku terpisah dengan Seorin-ku!
Aku menandai tanggal 19. Sudah dua hari.
***
Bagaimana rasanya jalan berdua denganmu? Sadarkan aku, apa aku bermimpi? Kau yang membuat semua ini menjadi nyata. Aku bahagia ada di dekatmu dan menghiasi hari-hari terakhirmu.
Menyenangkan rasanya melihat orang yang kau sayangi pergi dengan bahagia, bahagia denganmu.
“Oppa, kenapa kau membawa payung?” tanyamu seakan meragukanku. Aku hanya mencoba melindungimu sebisaku.
“Pasti nanti hujan,”
“Mana mungkin, kau tidak lihat langit secerah ini,”
Ah, Seorin. Kau memang menggemaskan. Aku akan membuat kejutan untukmu.
Aku mengamati jam tanganku, “Nah, sekarang waktunya hujan!”
Aku membuka payungku. Lembaran tipis berwarna biru yang akan melindungi kita. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kau hanya memandang dengan takjub, seakan tak mengerti apa yang barusan terjadi. Aku sudah bilang, aku hanya mencoba melindungimu sebisaku.
“Jam ini bagus kan?” tanyaku padanya sembari melihat kalung jam hipnotik itu. Aku pernah memilikinya dulu, sayang sekali sudah hilang.
“Oppa mau jam ini?” tanyanya dengan tatapan manis ke arahku.
“Tidak usah,” jawabku tersenyum. Kami meninggalkan toko itu masih dengan perasaan riang.
Kau tahu seberapa beruntungnya aku hari itu? Paling tidak aku sudah berusaha memberikan kesan-kesan terakhir untukmu. Sudah tanggal 20 bukan...
***
Gerakan tubuhmu yang gemulai itulah yang mampu menahankan untuk sesaat saja tidak menatapmu. Aku tahu kau pasti berlatih dengan sungguh untuk festival itu. Aku tidak akan membuat pertunjukanmu itu berantakan.
Namun sepertinya aku salah.
“Oppa, ini sebenarnya apa?” tanyanya sambil memegang potongan koran yang berada di saku jaketku.
“Ini tak seperti yang kau bayangkan,”
“Pergilah!”
“Tapi…”
“Pergilah! Aku bilang pergi!”
Aku terpaksa pergi dan menuruti keinginannya. Ia memang benci padaku. Aku tahu itu. Ya, aku memang tahu.
***
Sudah tanggal 23. Tinggal sehari lagi bagiku untuk menghentikan kecelakaan mautmu itu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untukmu Seorin. Aku Cuma mau kau selamat, aku mencintaimu…
Di tengah keputus asaan yang menderaku, aku akhirnya menemukanmu. Dengan balutan blazer krem dan atasan berwarna putih. Bahkan pada menit-menit kematianmu kau masih terlihat menawan. Di telingamu terpasang headset. Mungkin kau tidak akan mendengar suaraku nanti.
Awas Seorin!!!
Bruuukk!!
Aku…
Aku…
Hanya mencoba…
Aku hanya mencoba melindungiku sebisaku…
“Oppa! Oppa!” teriakmu berlutut disampingku, mengamati jasadku. Jangan menangis Seorin. Aku tidak akan pergi lama.
“Oppa! Gwaenchamna! Bangunlah!” rintihmu memilukan. Aku tidak mau mendengar tangisanmu. Ayo bangkit dan tersenyumlah!
Kenapa kau masih menangis dengan keras. Apa aku menyakitimu? Apa kau terluka karenaku?
Diamlah Seorin! Aku disini, jangan takut. Aku masih di dekatmu. Apa kau tidak melihatku? Aku disampingmu Seorin. Aku setia menghapus air matamu disini.
Tapi mungkin Tuhan berkata lain. Semoga beruntung di pertunjukanmu besok. Aku tidak sabar ingin melihatmu menari di depan semua orang. Aku tidak sabar mendengar tepukan meriah orang-orang untukmu. Aku tak sabar melihatmu tersenyum di atas panggung.
Mungkin kau tidak sadar aku dimana. Percayalah, sekarang aku di dekatmu. Aku akan menunggumu di surga…
***
“Oppa, maafkan aku,” kata seorang yeoja, menatap foto seorang namja yang tersenyum ke arahnya, seolah menghiburnya.
Yeoja itu makin menangis, sementara namja itu terus saja melihatnya dengan tersenyum.
Yeoja itu beralih pandangan dari foto itu ke sebuah potongan koran. Pertunjukannya sukses tanpa ada halangan apapun.
“Annyeonghi gyeseyo Lee Hong Ki…”
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Gummiers Response